• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
Universitas Gadjah Mada
  • BERANDA
  • PROGRAM MAGISTER
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • PERKULIAHAN
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
  • PROGRAM DOKTOR
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • KURIKULUM 2021
      • KURIKULUM 2026
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
    • RISET/PUBLIKASI
  • TRACER STUDY
  • KONTAK
  • Beranda
  • Berita
  • Susuri Empat Bentang Alam DIY, Mahasiswa Defisiensi Magister Ilmu Lingkungan UGM Ikuti Kuliah Lapangan dari Watu Gede hingga Pantai Depok

Susuri Empat Bentang Alam DIY, Mahasiswa Defisiensi Magister Ilmu Lingkungan UGM Ikuti Kuliah Lapangan dari Watu Gede hingga Pantai Depok

  • Berita, Berita S2, Sorotan, Sorotan S2
  • 19 Agustus 2026, 10.06
  • Oleh: muhammad.ulyn.n
  • 0

Yogyakarta, 15 Agustus 2026 – Minat Studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM), menyelenggarakan kegiatan defisiensi kuliah lapangan bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini mengajak mahasiswa menyusuri empat titik pengamatan yang membentang dari lereng Gunung Merapi hingga pesisir selatan Yogyakarta, yaitu kawasan Watu Gede (Argomulyo, Cangkringan, Sleman), kawasan Gunung Sempu (Bantul), Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Sewon, hingga Pantai kawasan Pantai Depok, Parangtritis, Bantul.

Lokasi pertama, Watu Gede, memperkenalkan mahasiswa pada bentang alam yang dibentuk oleh aktivitas vulkanik Gunung Merapi, mulai dari aliran lahar, endapan material vulkanik, hingga kemunculan mata air. Dr. Rika Harini, S.Si., MP. memaparkan sisi sosial-ekonomi masyarakat sekitar, termasuk riwayat penambangan pasir yang kini bergeser menjadi kawasan wisata pascabencana, sekaligus pentingnya penataan ruang berbasis risiko bencana bagi warga yang tetap bertahan karena ikatan kearifan lokal. Dari sisi ekologi, Dr. Priyaji Agung Pambudi, S.Pd., M.Si. menjelaskan fenomena suksesi ekologis pada kawasan terdampak erupsi, termasuk peran tumbuhan pionir dan famili Fabaceae dalam mempercepat pemulihan kesuburan tanah melalui penambatan nitrogen.

Perjalanan berlanjut ke kawasan Gunung Sempu, Bantul, yang karakteristik geologinya dipengaruhi struktur Sesar Opak. Mahasiswa mengamati pemanfaatan tanah lempung sebagai bahan baku kerajinan gerabah Kasongan serta mendiskusikan sistem Cekungan Air Tanah (CAT) dan aliran Kali Bedog yang bermuara ke Sungai Opak. Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si. menyoroti keterkaitan antara penggunaan lahan, ketersediaan air tanah, dan tekanan urbanisasi terhadap biodiversitas, termasuk gejala urban heat island yang mulai dirasakan di kawasan yang semakin padat bangunan.

Selanjutnya, kunjungan ke IPAL Sewon memberi mahasiswa pemahaman langsung mengenai pengelolaan limbah domestik perkotaan. Di lokasi ini dibahas bagaimana pengolahan air limbah sebelum dikembalikan ke lingkungan berperan penting mencegah pencemaran sungai dan air tanah, sekaligus menjaga kesehatan masyarakat di tengah pertumbuhan permukiman Yogyakarta.

Lokasi terakhir, Pantai Cemara Sewu di kawasan Pantai Depok, menjadi ajang pengamatan dinamika bentang alam pesisir. Mahasiswa mempelajari peran vegetasi dalam menstabilkan sedimen pantai, perubahan garis pantai akibat proses sedimentasi dan erosi, hingga ancaman perubahan iklim terhadap rasio jenis kelamin tukik penyu yang ditentukan oleh suhu inkubasi telur. Potensi ekowisata pesisir turut didiskusikan sebagai alternatif penggerak ekonomi masyarakat yang tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.

Keempat lokasi tersebut memperlihatkan gradien landscape yang saling terhubung, mulai dari dataran vulkanik di Cangkringan, dataran fluvio-vulkanik di Bantul, kawasan pengolahan limbah perkotaan di Sewon, hingga dataran pesisir di Parangtritis. Melalui pengamatan langsung ini, mahasiswa diajak memahami bahwa landscape bukan sekadar rangkaian lokasi yang berdiri sendiri, melainkan satu sistem yang terbentuk dari interaksi proses geologi, hidrologi, ekologi, serta aktivitas sosial-ekonomi masyarakat.

Secara umum, rangkaian kuliah lapangan matrikulasi ini turut mendukung sejumlah Secara umum, kegiatan ini turut mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pengamatan di IPAL Sewon, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui diskusi tata ruang berbasis risiko bencana di Cangkringan, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pembahasan dampak iklim terhadap populasi penyu, SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui pengamatan ekosistem pesisir, hingga SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui kajian suksesi vegetasi dan air tanah di Bantul. Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru diharapkan memperoleh bekal pemahaman awal yang kuat mengenai keterkaitan aspek fisik, ekologi, dan sosial-budaya lingkungan sebelum mengikuti perkuliahan inti Program Studi Magister Ilmu Lingkungan SPs UGM.

Penulis: Fardan Yusuf Ibrahim

Tags: ilmu lingkungan praktik lapangan SDG 11 SDG 13 SDG 14 SDG 15 SDG 6 SDGs

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (+62) 858-6655-3174
Email: ilmulingkungan.pasca@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY