REMBANG, 26 Juni 2026 – Eksistensi burung (avifauna) dalam suatu ekosistem bertindak sebagai indikator biologis yang sensitif terhadap stabilitas dan kualitas lingkungan. Guna memotret derajat kesehatan ekologis kawasan pesisir Pantai Utara Jawa, tim mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan (S2) Universitas Gadjah Mada melakukan sensus dan analisis keanekaragaman avifauna di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kegiatan riset lapangan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tematik yang dilaksanakan dari tanggal 22 hingga 25 Juni 2026 di bawah bimbingan dosen pembimbing Dr. Priyaji Agung Pambudi, S.Pd., M.Si.. Adapun tim minat biotik pada topik avifauna dalam kegiatan KKL ini beranggotakan empat mahasiswa pascasarjana, yaitu Jihan Kamila Wardani, Az Zahra Kania, Alief Himmatu Nisa, dan Annisa Hurul Aini.

Pelaksanaan riset lapangan mengenai analisis keanekaragaman avifauna yang menjadi bagian dari program KKL ini dirancang secara sistematis untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Riset ini secara langsung mendukung SDGs Poin 14 mengenai Ekosistem Lautan melalui inventarisasi jenis burung air dan intertidal serta penilaian indeks kesehatan ekologis kawasan pantai dan hutan mangrove sebagai penyedia pakan utama satwa liar. Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi untuk mencapai SDGs Poin 15 mengenai Ekosistem Daratan dengan menyediakan basis data ilmiah keanekaragaman hayati lintas mosaik habitat pesisir, mengidentifikasi status konservasi spesies terancam punah, serta mendeteksi kerentanan ekologis akibat homogenitas lingkungan guna merumuskan rekomendasi strategi manajemen perlindungan satwa yang berkelanjutan.
Penelitian ini dilakukan pada empat stasiun pengamatan yang mewakili variasi habitat berbeda, yakni Stasiun Permukiman yang mencerminkan ruang aktivitas antropogenik padat, Stasiun Kawasan Tambak sebagai area terbuka komersial, Stasiun Kawasan Hutan Mangrove dengan vegetasi rapat, dan Stasiun Kawasan Pantai yang berbatasan langsung dengan laut lepas. Berdasarkan hasil pengamatan di empat stasiun tersebut, tim peneliti berhasil mengidentifikasi sedikitnya 28 spesies burung tergolong ke dalam berbagai famili taksonomi dan dari keseluruhan spesies yang teramati, spesies Kuntul Kecil (Egretta garzetta) adalah yang mendominasi secara masif di area tambak dengan jumlah 42 individu dan hutan mangrove dengan jumlah 42 individu. Tingginya populasi ini mengindikasikan ketersediaan pasokan pakan yang melimpah (ikan kecil dan krustasea), namun di sisi lain memicu kerentanan ekologis akibat homogenitas struktur lingkungan. Berdasarkan status konservasi menurut IUCN dan tingkat endemisitasnya, sebagian besar spesies yang diamati berstatus Last Concern (LC/Risiko Kepunahan Rendah), namun terdapat satu spesies berstatus Near Threatened (NT/Hampir Terancam) yaitu Cerek jawa, dan satu spesies berstatus Endangered (EN / Terancam Punah) yaitu Bangau. Beberapa spesies juga tercatat sebagai satwa Endemik Indonesia seperti Raja udang biru, Walet linchi, dan Cerek jawa, sementara sisanya dikategorikan tidak endemik.

Dari penelitian ini, diperoleh kesimpulan sementara bahwa kawasan pesisir Kabupaten Rembang memiliki heterogenitas habitat yang baik dengan teridentifikasinya sedikitnya 28 spesies burung yang tersebar di wilayah permukiman, tambak, mangrove, dan pantai. Kawasan pesisir Rembang memiliki status Indeks Kualitas Ekosistem “Baik” pada tiga stasiun (permukiman, tambak, dan mangrove) dan “Sangat Baik” pada stasiun pesisir pantai. Mosaik habitat pesisir Rembang terbukti saling mendukung, di mana kawasan permukiman menjadi ruang adaptasi antropogenik yang padat, tambak dan pantai bertindak sebagai penyedia pakan utama, sementara mangrove berfungsi sebagai tempat perlindungan dan habitat spesifik satwa liar. Namun, tingginya dominasi spesies tertentu pada area tambak dan hutan mangrove (terutama oleh Kuntul kecil) mengindikasikan adanya kerentanan ekologis akibat homogenitas struktur lingkungan, yang berpotensi menurunkan tingkat resiliensi kawasan jika terjadi perubahan fungsi lahan yang masif atau degradasi lingkungan di masa mendatang.
Penulis: Shinta P