Rembang, 21-25 Juni 2026 – Mahasiswa Minat Abiotik (FISIK) Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 2026 bertema abrasi pantai di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, di bawah bimbingan Dr. Tjahyo Nugroho Adji, S.Si., M.Sc.Tech. Tim menyasar enam pantai di empat kecamatan yaitu Pantai Sluke, Pantai Caruban, Pantai Pasir Putih Wates, Pantai Pantiharjo, Pantai Pasarbanggi, dan Pantai Kabongan Lor. Pantai tersebut membentang sepanjang 36,48 km garis pantai Utara Jawa. Kabupaten Rembang menyimpan potensi besar di sektor perikanan dan pariwisata bahari, namun ancaman abrasi yang terus menggerus bibir pantai, akibat minimnya tutupan vegetasi, tekanan gelombang musiman, dan pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir menjadi persoalan yang kian mendesak untuk dipetakan dan ditangani.

Penelitian ini menggunakan pendekatan mini riset multi-parameter dengan pengukuran langsung di 15 segmen pantai (5 segmen di masing-masing tiga pantai utama). Parameter fisik yang dikumpulkan meliputi kemiringan pantai, elevasi kumulatif, tinggi gelombang pecah, dan periode gelombang, menghasilkan total 45 data aktual. Guna memahami dimensi sosial, tim menyebarkan kuesioner kepada 22 responden warga pesisir dan melakukan wawancara mendalam dengan empat informan kewilayahan yang terdiri dari Kepala BPBD Kabupaten Rembang, Camat Sluke, Perangkat Desa Gedongmulyo, dan Kepala Dusun Wates. Terdapat lima aspek yang ditinjau yaitu perubahan garis pantai, dampak ekologis, dampak sosial-ekonomi, adaptasi, dan ketahanan sosial-ekologis.
Temuan lapangan menunjukkan kondisi yang bervariasi namun mengandung benang merah yang sama. Pantai Caruban mencatat elevasi kumulatif negatif -0,596 m dengan kondisi abrasi yang dinilai cukup parah oleh informan kunci, dipicu oleh absennya vegetasi penahan gelombang, dinamika angin musiman, serta aktivitas pelabuhan dan jetty di sekitarnya. Persepsi warga terhadap dampak sosial-ekonomi di pantai ini sangat tinggi dengan nilai rata-rata 4,75 yang mencerminkan betapa langsung abrasi dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pantai Pasir Putih Wates mencatat kemiringan paling curam (11,6°) dan elevasi kumulatif -1,027 m, dengan dampak berupa terganggunya lahan tambak dan sulitnya perahu nelayan bersandar. Sementara Pantai Pantiharjo menghadapi gelombang lebih energetik dengan tinggi 1,69 m. Sebaliknya, Pantai Pasarbanggi dan Pantai Kabongan Lor secara fisik tidak menunjukkan gejala abrasi namun tingkat pemahaman warganya terhadap perubahan garis pantai justru rendah, sebuah temuan yang menjadi pengingat bahwa wilayah yang aman hari ini pun membutuhkan kesiapsiagaan untuk masa depan.
Berdasarkan data yang diperoleh tim di lapangan akan dilakukan analisis melalui skoring tingkat abrasi, sintesis matriks multi-parameter untuk menentukan Kelas Kerentanan Pesisir Terintegrasi, serta analisis deskriptif-kualitatif untuk mengonfirmasi hubungan sebab-akibat yang ditemukan di lapangan. Hasil akhirnya diharapkan menjadi rekomendasi penanganan abrasi berbasis bukti yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah bukan sekadar laporan akademik, melainkan kontribusi nyata bagi pengelolaan wilayah pesisir Kabupaten Rembang yang lebih tangguh. Kegiatan ini selaras dengan SDG 13 (Climate Action), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 15 (Life on Land) dalam mendukung perlindungan ekosistem pesisir yang berkelanjutan.
Penulis: Selamita