Yogyakarta, 23 April 2026 – Program Studi Magister (S2) Ilmu Lingkungan menyelenggarakan sesi pembekalan daring bagi mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahun 2026 pada Kamis (23/4). Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan penguatan perspektif keilmuan langsung dari Dr. Tasdiyanto, S.P., M.Si. Beliau hadir sebagai dosen praktisi yang saat ini bertugas sebagai Staf Ahli Menteri pada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (2025–2026).

(Dokumentasi Kegiatan)
Dr. Tasdiyanto memaparkan materi bertajuk “Isu-Isu Strategis: Sosial, Ekonomi, Budaya, Iptek, Industri, dan Lingkungan”. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa hunian layak dan lingkungan sehat adalah hak asasi warga negara sesuai amanat Pasal 28H UUD 1945. Pertemuan ini menjadi sangat strategis mengingat sektor perumahan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan papan, tetapi juga memiliki dampak lingkungan dan ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Dalam sesinya, Dr. Tasdiyanto menyoroti tantangan besar di mana pembangunan sering kali mengabaikan daya dukung lingkungan. Beliau menegaskan bahwa tata ruang saat ini belum sepenuhnya efektif mengakomodasi potensi bencana. Dalam sesi diskusi, beliau menggarisbawahi ironi pembangunan saat ini di mana aspek ekonomi masih menjadi panglima, sementara lingkungan sering kali menjadi korban. Akibatnya, perilaku manusia secara kolektif telah mempercepat siklus bencana alam yang seharusnya bisa dimitigasi melalui perencanaan yang lebih matang.
Sebagai solusi inovatif, sesi ini mengulas potensi penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam konsep smart city sangat berpeluang untuk diintegrasikan dalam pengelolaan lingkungan perkotaan, seperti memetakan titik penumpukan sampah dan memantau volume limbah yang mengalir ke badan air, hingga simulasi sirkulasi udara di kawasan padat. Selain teknologi, penguatan kearifan lokal (lokalitas) dalam desain arsitektur sangat ditekankan agar hunian tidak sekadar meniru model luar negeri. Tren slow living dengan konsep “pekarangan” di mana hunian menyatu dengan ekosistem kebun dan kolam sebagai sumber ekonomi mandiri diperkenalkan sebagai alternatif hunian adaptif dan ramah lingkungan. Mengingat posisi Indonesia di Ring of Fire, pengembangan konstruksi tahan gempa (khususnya ancaman megathrust) dan bangunan rendah emisi gas antropogenik menjadi prioritas mendesak.
Di sektor kebijakan, Dr. Tasdiyanto menyoroti urgensi penyederhanaan izin lingkungan dan penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ke depan, kebijakan perumahan bagi MBR diarahkan untuk menjadi lebih mudah, murah, dan cepat, namun tetap berpegang teguh pada prinsip green building dan keberlanjutan.
Penyelenggaraan pembekalan ini sekaligus mempertegas komitmen Program Studi Magister Ilmu Lingkungan UGM dalam mengakselerasi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini berkontribusi langsung pada hunian layak dan tata kota yang tanggap bencana merupakan kontribusi nyata terhadap SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDG 13 (Climate Action) yang mendorong pembangunan rendah emisi dan tanggap bencana. Selain itu, integrasi teknologi dalam memantau limbah cair dan pelestarian Ruang Terbuka Hijau selaras dengan prinsip SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 15 (Life on Land), sementara penyelenggaraan sesi akademik ini secara konsisten mendukung SDG 4 (Quality Education) dalam mencetak lulusan yang kompeten di bidang lingkungan.
Dengan persiapan yang matang ini, mahasiswa diharapkan siap memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kawasan permukiman yang inklusif, aman, dan berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu mewujudkan prinsip Sustainable and Affordable Housing yang harmonis dengan daya dukung alam Indonesia.
Penulis: Adzraa Dhiyaa Nazhirah