Yogyakarta 20 Oktober 2025 – Energi merupakan salah satu keperluan vital dalam pembangungan dan pengembangan sumber daya yang ada di bumi pertiwi. Keperluan energi selama ini bersumber dari bahan bakar fosil memerlukan transformasi ke sumber daya energi baru dan terbarukan atau EBET. Transformasi secara perlahan dapat mulai dari aspek pengetahuan, sumber daya pengelola dan pengembang serta ketersediaan infrastruktur yang memadai. Hal ini sebab sumber energi dari bahan bakar fosil telah memberikan dampak pada terjadinya perubahan iklim secara global atau climate change dan cenderung menimbulkan pemanasan secara global atau global warming. Salah satu aspek penting yang tidak boleh dilupakan bahwa pengembangan EBET sangat dipengaruhi dan mempengarui aspek sosial atau masyarakat di sekitar lokasi implant EBET.
Hasil penelitian menemukan bahwa Indonesia memiliki sumber daya EBET yang melimpah seperti dari panas bumi, angin, dan arus laut. Akan tetapi, mind set yang dimiliki masih cenderung untuk memanfaatkan energi secara umumnya digunakan yakni bahan bakar fosil. Data adanya paradoks sumber energi di Indonesia bahwa telah mampu untuk memproduksi sendiri energi, tapi masih melakukan impor energi khususnya pada sumber daya minyak bumi.
Untuk memfasilitasi perubahan paradigma tentang transisi penggunaan EBET di Indonesia maka dilaksanakan kegiatan bincang dengan tema Transisi Energi Menuju Swasembada Energi dilaksanakan di lantai 5 Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Himne UGM. Rangkaian acara dibuka oleh Sambutan dari Ibu Dekan SPs, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Pd.D. Dekan SPs UGM menyampaikan pentingnya diskusi ini dilaksanakan untuk mendukung perkembangan infrastruktur dan memperkenalkan berbagai sejumlah Program Studi (Prodi) di SPs UGM. Ucapan terima kasih diberikan kepada Deputi Energi dan berharap adanya kerjasama.
Sambutan dilanjutkan oleh Bapak Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Beliau memperkenalkan diri dan kegiatan yang terkait kegiatan transisi energi. Ada dua poin mendasar yang disampaikan bahwa kejadian climate change merupakan fakta yang terjadi secara nyata dan perlu dilakukan usaha bersama untuk menghentikan peningkatan gas rumah kaca. Energi fosil sebagai sumber energi utama yang digunakan oleh dunia sekitar 78%. Poin kedua yang sejalan dengan arahan dari Presiden RI yaitu adanya upaya untuk melaksanakan swasembada energi. “Indonesia merupakan negara yang sangat karya sebab lebih banyak mengekspor, tapi ada pula ketimpangan sebab impor juga energi khususnya minyak meliputi minyak bumi dan LPG. Kita perlu untuk menghentikan energi fosil yaitu minyak dan LPG. Ada paradoks kebijakan sebab kita melakukan subsidi minyak bumi dan LPG yang merupakan sumber daya impor energi. Jika terjadi perubahan untuk menghentikan subsidi dapat pula terjadi gangguan di masyarakat. Diskusi tentang soal batu bara juga mengindikasikan adanya jumlah penggunaan sumber daya batu bara yang lebih rendah daripada yang dimiliki oleh dunia.
(Dokumentasi Kegiatan)
Kegiatan inti dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh moderator, Bapak Prof. Dr. Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M. Eng. Pembicara pertama, Bapak Ardyanto Fitrady, M.A., M.Si., Ph.D dengan tema Pertimbangan Tekno-Ekonomi Makro terhadap Program Sisi Energi, Prof. Dr. Mailinda Eka Yuniza, SH., L.L.M dengan tema Pemetaan Regulasi tentang Transisi Energi di Indonesia, dan Bapak R. Derajad Sulistyo Widhyarto, S.Sos., M.Si dengan tema Pertimbangan Sosiologi dalam Menyukseskan Transisi Energi di Indonesia.
Beberapa poin penting yang disampaikan oleh Bapak Ardyanto dalam ide tentang transisi energi dari perspektif ekonomi antara lain: transisi energi menjadi kesepakatan bersama, tapi belum mau dikerjakan secara bersama-sama. Hal tersebut dipicu oleh investasi yang berbiaya mahal. Walaupun demikian, EBET memiliki permintaan yang tinggi. Lalu, memberikan keuntungan berupa diversifikasi energi, penciptaan lapangan kerja hijau (job creation), long-term cost reduction dan energy security serta meningkatkan global competitiveness. “Tantangan struktural siklus inersia energi perlu dipikirkan secara bijak untuk memotong siklus yang panjang”, ungkapnya.
Prof Mailinda yang menyoroti tentang pemetaan regulasi di bidang transisi energi menyampaikan beberapa poin pokok seperti adanya trilemma EBET yakni menjaga keseimbangan kepentingan masyarakat, lingkungan dan ekonomi. Komitmen bersama dalam implementasi EBET bukan hanya menghilangkan penggunaan bahan bakar fosil, tapi secara bertahap, terukur, rasional dan berkelanjutan untuk mampu menurukan emisi gas rumah kaca. Kita perlu meningkatkan peran EBET dan harapan mencapai net zero emission 2060 yang dilakukan skala nasional dan internasional. “Kepastian hukum dan regulasi yang ajek menjadi kunci impmelentasi EBET di Indonesia”, poin penting dari Prof Mailinda.
Pembicara ketiga yaitu Bapak Derajad dengan tema pertimbangan sosiologi dalam menyukseskan transisi energi di Indonesia menekankan beberapa poin bahwa pembangunan dilakukan bukan di ruangan hampa sehingga pasti ada persinggungan antara negara dan masyarakat. Implementasi EBET tidak boleh dilaksanakan tanpa mengedepankan aspek sosial. Hal ini disebabkan adanya dampak sosial pengembangan EBET seperti penciptaan jutaan green jobs baru, tapi tanpa program reskilling, pekerjaan sektor bahan bakar fosil berisiko kehilangan pekerjaan), relokasi masyarakat karena proyek energi (perubahan lapangan pekerjaan, lapangan pekerjaan sebab minimnya sosialisasi dan perlindungan FPIC), kesenjangan akses energi (wilayah 3T mengalamai energy poverty dan keterbatasn bahan bakar bersih), konflik lahan dan adat (sering menimbulkan konflik lahan dan tanah adat oleh sebab lemahnya tata kelola agraria), perubahan gaya hidup dan kebiasaan energi (peralihan ke teknologi energi bersih seperti kompor listrik dan kendaraan listrik mulai mengubah pola konsumsi energi masyarakat meski adopsi masih dipengaruhi faktor ekonomi dan budaya). Beliau memberikan ide “Kunci keberhasilan untuk transisi energi bukan sekedar perubahan teknologi tapi juga transformasi sosial, pendekatan sosiologis penting, keberhasilan transisi energi = keberhasilan membangun keadilan sosial dan lingkungan”.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama para narasumber termasuk Bapak Rahcmat Kaimuddin telah menjadi segmen yang menarik. Para peserta yang berasal dari mahasiswa S2 dan S3 di Sekolah Pascasarjana UGM dan juga perwakilan dosen atau akademisi memberikan input dan pertanyaan untuk menerapkan EBET di Indonesia dan juga tidak memberikan efek negatifnya. Jawaban yang diberikan oleh para narasumber menekankan beberapa poin yang idealnya menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk pengembangan EBET, baik oleh swasta dan juga oleh pemerintah. Akan tetapi, perlu adanya konsep yang lebih dimengerti oleh masyarakat dan memberikan keuntungan sesuai daya beli di masyarakat. Ada beberapa regulasi yang perlu diperbaiki seperti UU Pemerintah Daerah dan Perpres yang idealnya sejalan untuk mengizinkan kewenangan yang sesuai. Salah satu poin penting yang tidak boleh dilupakan bahwa aspek sosial kemasyarakatan tidak boleh ditinggalkan saat rancangan dan pengembangan EBET dilakukan di suatu daerah. Masyarakat perlu dan wajib dilibatkan secara sadar dan berpartisipasi aktif sehingga isu transisi energi menuju swasembada energi dapat dicapai bukan cuma di kalangan ide dari para pemikir atau pihak pemerintah, tapi sampai di komunitas masyarakat lokal. Akses secara berimbang sangat perlu. “Aspek sosial juga menjadi penting dalam implementasi transisi energi”.
(Dokumentasi S2 dan S3 Ilmu Lingkungan ketika Mengikuti Kegiatan)
Kegiatan Bincang Transisi Energi Menuju Swasembada Energi ini secara langsung mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) yang menekankan akses terhadap energi yang andal, berkelanjutan, dan modern bagi semua, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dengan beralih dari energi fosil ke Energi Baru dan Terbarukan (EBET). Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap SDG 4 (Pendidikan Berkualitas – target 4.7) karena menjadi wadah pembelajaran lintas disiplin tentang transisi energi, dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan green jobs serta penguatan daya saing ekonomi nasional secara berkelanjutan. Dengan demikian, forum ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga bagian dari komitmen nyata dalam mendukung agenda global pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Author: Willem Amu Blegur
Photos: Akbar Wahyu Illahi


