Yogyakarta, 29 April 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPS UGM) melalui program Kuliah Kerja Lapang (KKL) oleh Magister Ilmu Lingkungan pada tanggal 29 April 2026 kembali menegaskan urgensi pendekatan ilmiah dalam memahami dinamika karbon melalui tema “Estimasi Karbon dalam Konteks Persepsi Lingkungan”. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada pemaparan teoritis, tetapi juga mengedepankan dialog akademik yang kritis antara dosen dan mahasiswa sebagai bentuk konstruksi pengetahuan yang partisipatif dan reflektif.
Berita
Yogyakarta, 23 April 2026 – Program Studi Magister (S2) Ilmu Lingkungan menyelenggarakan sesi pembekalan daring bagi mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahun 2026 pada Kamis (23/4). Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan penguatan perspektif keilmuan langsung dari Dr. Tasdiyanto, S.P., M.Si. Beliau hadir sebagai dosen praktisi yang saat ini bertugas sebagai Staf Ahli Menteri pada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (2025–2026).

(Dokumentasi Kegiatan)
Dr. Tasdiyanto memaparkan materi bertajuk “Isu-Isu Strategis: Sosial, Ekonomi, Budaya, Iptek, Industri, dan Lingkungan”. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa hunian layak dan lingkungan sehat adalah hak asasi warga negara sesuai amanat Pasal 28H UUD 1945. Pertemuan ini menjadi sangat strategis mengingat sektor perumahan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan papan, tetapi juga memiliki dampak lingkungan dan ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Yogyakarta, 22 April 2026 – Dalam rangka memperkuat kesiapan akademik menjelang pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Juni mendatang, Program Studi Magister Ilmu Lingkungan menyelenggarakan kelas pendalaman materi pada Rabu (22/4). Sesi kali ini secara khusus membedah metodologi kajian aspek sosial dan kualitas lingkungan yang akan diimplementasikan di wilayah pesisir Jawa Tengah.

(Dokumentasi Kegiatan)
Dibimbing langsung oleh Dr. Noorhadi Rahardjo, M. S., mahasiswa diberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya mengintegrasikan kondisi sosial ekonomi masyarakat ke dalam analisis ketahanan lingkungan. Fokus utama dalam diskusi kelas ini adalah rencana penyusunan peta kualitas lingkungan permukiman di wilayah Kabupaten Pati, dengan kajian spesifik mencakup wilayah Juwana.
Rabu, 22 April 2026, mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada mengikuti Seminar Nasional Pemikiran Bulaksumur yang mengangkat tema Integritas Akademik dan Kampus Bermartabat dalam Membangun Bersama Masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Lingkungan Budaya yang diampu oleh Prof. Dr. Muhammad Baiquni, M.A., dengan melibatkan 10 mahasiswa. Seminar ini menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus agen perubahan sosial yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat, termasuk isu-isu lingkungan.
YOGYAKARTA, 22 April 2026 – Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan prosesi pelepasan wisudawan pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan pada Rabu (22/4). Pada periode ini, sebanyak 16 lulusan resmi menyelesaikan studi dan siap melanjutkan kontribusi profesional maupun akademik di berbagai bidang lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.


(Dokumentasi Kegiatan)
Daftar wisudawan Program Studi Magister Ilmu Lingkungan pada periode ini terdiri atas Annisa Ayu Fawzia, Baktida Revi Prasetyo, Bayu Pamungkas, Berlania Mahardika Putri, Boy Kurniawan, Cindy Amelina, Dwi Prayoga Ade Sarlita, Fathul Jannah, Herlin Mienatha Simbiak, Linta Aulia, Nur Idham Kholid, Prima Dinta Rahma Syam, Riana Ekawati, Rina Andriyaningrum, Roro Crisanthy Suparyanto, dan Witari Elya Utami.
Pada hari Sabtu (18/4), sebanyak 14 mahasiswa program Magister Ilmu Lingkungan UGM mengikuti Kuliah Lapangan Tanah dan Lingkungan Hidup yang dipandu langsung oleh Prof. Dr. Junun Sartohadi, M.Sc. Dalam pengantarnya, Prof. Junun menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar observasi pasif, melainkan proses pembelajaran aktif yang mengintegrasikan pemahaman teoretis dengan validasi empiris. Pembelajaran ini menyoroti bahwa tanah tidak dapat dipahami secara terpisah dari proses geomorfologi, dinamika hidrologi, aktivitas vulkanik, hingga intervensi sosial-budaya masyarakat. Sebelum terjun ke lokasi, mahasiswa diwajibkan membangun hipotesis awal melalui analisis peta, citra satelit, dan literatur terdahulu. Tanpa adanya hipotesis, kegiatan lapangan ditegaskan hanya akan menguras kelelahan fisik tanpa memberikan pemahaman yang bermakna.
Yogyakarta — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui ajang 2nd International Student Summit 2026 Malaysia yang berlangsung pada 14–15 Februari 2026. Dalam kompetisi tersebut, tim mahasiswa UGM berhasil meraih Bronze Medal pada kategori Food melalui inovasi berjudul “ROOT CHIPS: A Prebiotic Zero-Waste Snack for Low-Carbon Food Solutions.” Tim ini dibimbing oleh Dr. Priyayi Agung Pambudi dengan Baso Samsu Rijal sebagai ketua tim, serta beranggotakan Nurlaila Sahara Worabay, Rabiyathul Adawiyah Abbas, Muchammad Shaliqin, dan Atik Septiana Putri.
Yogyakarta (16/04) — Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada turut berpartisipasi dalam kegiatan Pelatihan Layanan Disabilitas: Disability Awareness untuk Mewujudkan Kampus Inklusif yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM bekerja sama dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM. Kegiatan berlangsung di Auditorium Lantai 5, Gedung Unit 1 SPs UGM.
(Dokumentasi Kegiatan)
Partisipasi Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan dalam kegiatan ini diwakili oleh unsur dosen, tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa. Kehadiran berbagai unsur sivitas akademika tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan pemahaman, sensitivitas, dan kapasitas layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan program studi.
Pada hari Sabtu, 11 April 2026, Program Studi Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada melaksanakan kuliah lapangan bersama mahasiswa bidang minat sosial budaya di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kegiatan ini dilaksanakan di Situs Goa Song Terus serta Museum Song Terus. Kuliah lapangan diikuti oleh 10 mahasiswa yang didampingi dosen pengampu mata kuliah Lingkungan Budaya, yaitu Dr. Dra. Niken Wirasanti, M.Si.
(Tim Kuliah Lapangan)
Kabupaten Pacitan merupakan salah satu wilayah di bagian selatan Pulau Jawa yang termasuk dalam kawasan Gunung Sewu. Kawasan ini dikenal memiliki bentang alam karst dengan banyak goa alami, salah satunya Goa Song Terus. Goa ini telah menjadi objek penelitian arkeolog nasional maupun internasional karena menyimpan berbagai temuan penting terkait kehidupan manusia purba. Salah satu penemuan penting adalah kerangka manusia prasejarah yang dikenal sebagai “Mbah Sayem”, yang ditemukan pada tahun 1999 di mulut gua yang memiliki panjang sekitar 70 meter dan lebar 15 meter.
Studi Lapangan Sungai Code Yogyakarta: Pembelajaran Manajemen Lingkungan dari Kawasan Padat Penduduk
Yogyakarta (06/04) — Mahasiswa melaksanakan studi lapangan dalam rangka mata kuliah Manajemen Lingkungan di kawasan bantaran Sungai Code, Yogyakarta, dengan pendamping Prof. Bakti Setiawan. Kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran kontekstual untuk memahami secara langsung bagaimana prinsip-prinsip manajemen lingkungan diterapkan di tengah keterbatasan ruang dan tingginya kepadatan penduduk perkotaan.

(Penjelasan oleh Prof. Bakti Setiawan)

(Potret Permukiman)
Dalam pengantarnya, Prof. Bakti menjelaskan bahwa manajemen lingkungan tidak hanya berbicara tentang aspek teknis pengelolaan, tetapi juga mencakup aspek sosial, ekonomi, dan spasial. Salah satu isu utama yang diamati adalah kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan, yang tercermin dari tingginya rasio luas bangunan terhadap luas lahan. Kondisi ini menunjukkan tekanan besar terhadap daya dukung lingkungan, terutama di kawasan bantaran sungai. Sementara itu, di Sungai Code, pola permukiman berkembang secara organik, terutama melalui sektor informal. “Di sini kita bisa melihat bagaimana masyarakat beradaptasi dengan keterbatasan lahan, meskipun sering kali tanpa perencanaan awal yang matang,” jelasnya.