• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
Universitas Gadjah Mada
  • BERANDA
  • PROGRAM MAGISTER
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • PERKULIAHAN
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
  • PROGRAM DOKTOR
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • PERKULIAHAN
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK DAN JADWAL UJIAN
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
    • RISET/PUBLIKASI
  • KONTAK
  • Beranda
  • Berita
  • Waerebo: Ekowisata Budaya dan Semangat Keberlanjutannya

Waerebo: Ekowisata Budaya dan Semangat Keberlanjutannya

  • Berita, Berita S3
  • 8 Juli 2025, 09.45
  • Oleh: muhammad.ulyn.n
  • 0

Sebanyak 25 mahasiswa Program Doktor (S3) Universitas Gadjah Mada dari tiga program studi yaitu Program Studi Ilmu Lingkungan, Ilmu Geografi, dan Kependudukan, melaksanakan kegiatan Ekspedisi Sunda Kecil yang salah satunya dilaksanakndi Desa Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 2-3 Juli 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembelajaran lapangan yang mempertemukan mahasiswa dengan praktik nyata pengelolaan desa wisata berbasis budaya dan lingkungan.

(Dokumentasi Kegiatan)

Wae Rebo dikenal sebagai kampung adat yang terletak di kawasan pegunungan dan hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki selama tiga hingga empat jam. Daya tarik utama desa ini adalah tujuh rumah adat khas Manggarai berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang yang mengelilingi altar bernama Compang.

Setibanya di desa, para peserta diterima secara adat dalam upacara penyambutan di Mbaru Gendang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Dalam tradisi tersebut, para tamu memberikan donasi sukarela yang nantinya digunakan untuk mendukung pelestarian budaya dan konservasi lingkungan di desa tersebut.

Wae Rebo menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Dengan memanfaatkan potensi budaya dan keindahan alam yang dimiliki, warga desa mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi seperti jasa homestay, penjualan produk lokal (kopi, kain tenun, dan kerajinan tangan), serta penyediaan jasa pemandu wisata. Kegiatan pariwisata ini membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat keterlibatan masyarakat, sehingga tercipta ekosistem desa wisata yang inklusif dan berkelanjutan.

Salah satu peserta, Willem A.B., mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan, menyampaikan:

“Wae Rebo merupakan destinasi budaya yang sangat kuat. Pengelolaan berbasis masyarakat menjadikan warga merasa memiliki dan menjaga kawasan ini. Namun, masyarakat juga perlu didukung dengan pelatihan tentang pariwisata modern yang tetap menghormati nilai-nilai budaya lokal.”

Ia juga menyoroti pentingnya pelestarian kekayaan hayati seperti kopi lokal Wae Rebo yang kini telah dikenal luas hingga ke pasar internasional.

(Dokumentasi Kegiatan)

Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam mendukung keberlanjutan desa wisata. Edukasi mengenai pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, dan pariwisata berkelanjutan menjadi aspek penting yang perlu terus ditanamkan kepada masyarakat, baik melalui pelatihan komunitas maupun muatan lokal di sekolah dasar dan menengah.

Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan UGM, Prof. Eko Haryono menekankan pentingnya pendidikan berbasis lingkungan bagi anak-anak Wae Rebo:

“Sebagai desa wisata, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan perlu terus ditumbuhkan, dan pendidikan adalah kunci utamanya.”

Berdasarkan hasil observasi dan diskusi selama kegiatan, beberapa rekomendasi disampaikan untuk mendukung pengembangan Desa Wae Rebo ke depan di antaranya: (1) Perlu pendekatan yang seimbang antara pengembangan wisata dan pelestarian budaya lokal agar keunikan Wae Rebo tetap terjaga, (2) Pelatihan dalam bidang manajemen wisata, promosi digital, dan pengelolaan produk lokal dapat memperkuat peran masyarakat sebagai pelaku utama desa wisata, (3) Perlunya sinergi antara masyarakat, perguruan tinggi, dan pemerintah khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai untuk mendorong hadirnya program-program nyata di bidang konservasi, penguatan ekonomi, dan infrastruktur pendukung, dan (4) Peningkatan infrastruktur seperti jalur trekking, fasilitas homestay, sanitasi, serta akses transportasi menjadi penting untuk mendukung kenyamanan dan keselamatan pengunjung.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan baru mengenai praktik pengelolaan desa wisata, tetapi juga belajar langsung bagaimana semangat kolektif masyarakat lokal dapat menciptakan harmoni antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi. Kegiatan ini mendukung irisan poin-poin SDGs diantaranya SDG 1: tanpa kemiskinan, SDG 4: pendidikan berkualitas dan SDG 8: pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

(Dokumentasi Kegiatan)

Wae Rebo bukan sekadar tempat yang indah. Ia adalah simbol dari harapan dan ketekunan, yang memberi contoh bahwa dengan kebersamaan, kesadaran lingkungan, dan pendidikan yang tepat, desa-desa adat di Indonesia bisa menjadi contoh nyata pembangunan yang berkelanjutan.

Penulis: Ratna

Editor: Ulyn N

#kuliah kerja lapangan #ekowisata budaya #SDG 1: tanpa kemiskinan SDG 4: pendidikan berkualitas #SDG 8: pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi

Tags: Ekspedisi Sunda Kecil ilmu lingkungan Labuan Bajo SDG 1 SDG 4 SDG 8 SDGs Waerebo

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (+62) 858-6655-3174
Email: ilmulingkungan.pasca@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY