REMBANG, 26 Juni 2026 – Dalam upaya mendukung mitigasi perubahan iklim global melalui optimalisasi potensi blue carbon, sejumlah mahasiswa peminatan biotik dari Program Studi Magister Ilmu Lingkungan (S2) Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Kawasan Ekosistem Mangrove Pasar Banggi, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di bawah bimbingan dosen pakar Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., penelitian yang berlangsung dari tanggal 22 hingga 25 Juni 2026 ini memfokuskan kajian pada “Stok Karbon” (Carbon Stock) pada komponen biotik ekosistem pesisir. Tim penelit yang beranggotakan lima mahasiswa, yaitu Hanifa Fathya Rahmarani, Inayah Arif Ardiyanti, Zulmida, Muhammad Aqil G.E., dan Velsy Cindy Mayaut, membidik kawasan rehabilitasi mangrove Pasar Banggi karena wilayah ini memiliki dinamika lingkungan pesisir yang unik serta potensi besar sebagai penyerap emisi karbon dioksida (CO2) atmosfer global.

Pelaksanaan riset lapangan mengenai stok karbon ini secara strategis dirancang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Penelitian ini secara langsung mendukung SDGs Poin 13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim melalui penyediaan data riil kemampuan serapan emisi gas rumah kaca untuk memperkuat ketahanan pesisir. Selain itu, riset ini juga berkontribusi pada SDGs Poin 14 mengenai Ekosistem Lautan dalam menunjang tata kelola perlindungan wilayah intertidal, serta SDGs Poin 15 mengenai Ekosistem Daratan melalui upaya pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan penghentian proses hilangnya keanekaragaman hayati pesisir.
Ekosistem mangrove memiliki peran krusial karena kemampuannya menyerap karbon dan menyimpannya dalam bentuk biomassa maupun lapisan sedimen. Merujuk pada kajian terdahulu oleh Soeprobowati et al. (2024), hingga 65% total cadangan karbon mangrove justru tersimpan di dalam sedimen bawah permukaan. Temuan ini menunjukkan bahwa sedimen mangrove memiliki peran yang sangat besar dalam menyimpan karbon, sehingga perlindungan kawasan mangrove tidak hanya berfokus pada tegakan pohon, tetapi juga pada kondisi sedimen pesisir. Berdasarkan uraian tersebut, kawasan mangrove Pasar Banggi dipilih sebagai lokasi kuliah kerja lapangan karena memiliki ekosistem mangrove rehabilitas, mengalami dinamika lingkungan pesisir, serta mempunyai potensi cadangan karbon mangrove.
Melalui metode zonasi sabuk hijau pesisir, tim melakukan pemetaan dan pengukuran vegetasi pada dua zona dominan, yaitu Zona Backward (area dalam/belakang) dan Zona Middleward (area tengah). Berdasarkan hasil analisis komunitas vegetasi pada Zona Backward, ditemukan total sebanyak 73 pohon yang sepenuhnya didominasi oleh spesies Rhizophora stylosa. Sementara itu, analisis pada area Zona Middleward menunjukkan hasil total sebanyak 52 pohon yang didominasi oleh kombinasi spesies Avicennia marina dan Rhizophora apiculata. Perhitungan cadangan karbon permukaan sudah dilakukan dan menghasilkan temuan bahwa total cadangan karbon permukaan di Mangrove Pasar Banggi mencapai angka sebesar 460,94 Mg C/ha.
Hasil perhitungan cadangan karbon permukaan pada dua area tersebut menunjukkan nilai yang lebih tinggi secara signifikan di area Zona Backward, yakni mencapai sebesar 420,525 Mg C/ha. Sebaliknya, cadangan karbon di area Zona Middleward tercatat lebih rendah yaitu sebesar 80,836 Mg C/ha. Analisis sementara menyimpulkan bahwa perbedaan kontras ini dikarenakan area backward memiliki umur pohon yang cenderung lebih tua dengan diameter batang yang jauh lebih besar. Di sisi lain, pengambilan sampel tanah sedimen dilakukan hingga kedalaman 35 cm, dan dari analisis ditemukan adanya dua perbedaan fisik lapisan tanah yang dicirikan oleh perbedaan warna tanah Munsell dan tekstur tanah, yaitu lapisan atas berupa tanah cokelat muda berpasir kasar dengan berat basah 365 gr dan volume tanah 75 cm³, sedangkan lapisan kedalaman 35 cm berubah menjadi tanah abu-abu kehitaman bertekstur lempung padat dengan berat basah 1290 gr dan volume tanah 879 cm³.
Pelaksanaan riset lapangan ini tidak luput dari tantangan fisik yang berat berupa kesulitan aksesibilitas menjadi kendala terbesar akibat faktor kerapatan mangrove, substrat tanah yang lempung pekat sehingga terkendala dalam mobilisasi tim, serta pengaruh pasang surut air laut. Pasca-kegiatan lapangan ini, sampel tanah yang telah dikumpulkan akan diuji lebih lanjut di laboratorium untuk menganalisis persentase Karbon Organik serta nilai Bulk Density (berat isi tanah). Hasil integrasi data laboratorium tersebut nantinya akan digunakan untuk menyusun rekomendasi strategi pengelolaan lingkungan berkelanjutan, peta sebaran cadangan karbon digital berbasis foto udara drone, serta laporan komprehensif bagi pemerintah daerah dan pengelola wisata Mangrove Pasar Banggi. Melalui luaran penelitian KKL ini, Program Studi Magister Ilmu Lingkungan UGM berkomitmen untuk terus menyumbangkan data sains yang valid demi mendukung program nasional berbasis pemanfaatan ekosistem karbon biru dalam rangka mitigasi krisis iklim global.
Penulis: Shinta P