Rembang, 21-25 Juni 2026 – Mahasiswa Minat Abiotik (FISIK) Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 2026 bertema intrusi air laut di Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, di bawah bimbingan Dr. Tjahyo Nugroho Adji, S.Si., M.Sc.Tech. Intrusi air laut merupakan fenomena masuknya air laut ke dalam akuifer air tanah di wilayah pesisir, sebuah ancaman yang kerap tak kasat mata namun berdampak serius pada kualitas air minum, pertanian, dan kesehatan masyarakat. Kecamatan Rembang sebagai kawasan pesisir Pantai Utara Jawa memiliki kerentanan tinggi terhadap fenomena ini, mengingat intensitas penggunaan air tanah yang besar dari rumah tangga, aktivitas industri perikanan, dan pertanian di sekitarnya.

Penelitian ini dirancang dengan metode pengukuran langsung di 40 grid sumur yang tersebar di Kecamatan Rembang, terdiri dari 19 sumur galian dan 21 sumur dalam. Di setiap titik, tim mengukur lima parameter kualitas air menggunakan alat Digital Water Checker: Daya Hantar Listrik (DHL), Total Dissolved Solids (TDS), suhu, salinitas, dan pH. Hasil pengukuran kemudian diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menghasilkan peta sebaran spasial masing-masing parameter, yang memvisualisasikan zona-zona dengan tingkat konsentrasi tinggi sebagai indikasi intrusi. Validasi data dilakukan dengan mengacu pada klasifikasi nilai DHL menurut standar PAHIAA (1986), dengan memilih 10 grid representatif dari empat rentang nilai DHL, mulai dari kategori sangat tinggi (>5.000 μs/cm) hingga rendah (<1.000 μs/cm) — yang kemudian divalidasi melalui pengambilan sampel air untuk uji laboratorium.
Temuan lapangan mengungkap pola sebaran intrusi yang perlu diwaspadai. Tiga titik dengan nilai DHL, TDS, dan salinitas tertinggi terkonsentrasi di Grid 3 (Desa Tasikagung), Grid 9 (Desa Pasarbanggi), dan Grid 24 (Desa Kebonagung Kidul), ketiganya merupakan sumur galian atau sumur dangkal. Temuan ini mengindikasikan bahwa akuifer dangkal di Kecamatan Rembang jauh lebih rentan terhadap intrusi air laut dibandingkan sumur dalam, karena lapisan pelindungnya lebih tipis dan lebih mudah terpenetrasi oleh air laut. Peta sebaran yang dihasilkan memperlihatkan gradasi konsentrasi yang jelas: wilayah yang paling dekat dengan garis pantai dan mengandalkan sumur galian mencatat nilai parameter tertinggi, sementara wilayah yang lebih ke arah darat dengan sumur dalam menunjukkan kualitas air yang relatif lebih baik.
Sampel air yang sudah diperoleh di lapangan akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan ujidan selanjutnya dilakukan analisis untuk parameter klorida (Cl), natrium (Na), magnesium (Mg), dan kalsium (Ca) serta unsur-unsur kimia yang menjadi penanda kuat kehadiran air laut dalam akuifer. Data laboratorium ini akan diintegrasikan dengan analisis spasial GIS dan kajian deskriptif untuk menghasilkan peta intrusi air laut yang komprehensif. Hasil akhirnya diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan air tanah di Kecamatan Rembang yang lebih berkelanjutan, termasuk rekomendasi zonasi pemanfaatan sumur dan kebijakan perlindungan akuifer dangkal yang hingga kini masih paling rentan. Kegiatan ini selaras dengan SDG 6 (Clean Water and Sanitation) dalam menjamin ketersediaan air bersih, SDG 13 (Climate Action) dalam merespons dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air pesisir, serta SDG 14 (Life Below Water) dalam mendukung pengelolaan ekosistem laut yang berkelanjutan.
Penulis: Selamita