• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
Universitas Gadjah Mada
  • BERANDA
  • PROGRAM MAGISTER
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • PERKULIAHAN
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
  • PROGRAM DOKTOR
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • PERKULIAHAN
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
    • RISET/PUBLIKASI
  • KONTAK
  • Beranda
  • Berita
  • Outdoor Seminar & Aksi Lingkungan 2026 di DAS Bompon sebagai Upaya Konservasi Lahan dan Adaptasi Perubahan Iklim

Outdoor Seminar & Aksi Lingkungan 2026 di DAS Bompon sebagai Upaya Konservasi Lahan dan Adaptasi Perubahan Iklim

  • Berita, Berita S2, Sorotan, Sorotan S2
  • 25 Mei 2026, 14.32
  • Oleh: muhammad.ulyn.n
  • 0

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan 2026 yang mengusung tema “Inspired by Nature, For Climate, For Future”, Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana telah melaksanakan kegiatan koservasi lingkungan dengan tema “Eco-Action, Climate Reaction: From Land to Water, We Act Together” pada Rabu, 20 Mei 2026, di kawasan DAS Bompon, Dusun Kalisari, Kecamatan Kalisari, Kabupatan Magelang, Jawa Tengah. Daerah ini juga telah mendapatkan penghargaan tertinggi dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH) RI sebagai Proklim Lestari melalui keunggulannya di bidang penyelamatan sumber daya air dan terus meakukan penanaman pohon di sekitar mata air.

Sehubungan dengan hal tersebut, kegiatan ini diawali dengan melakukan penanaman pohon dan menghadirkan pembicara sekaligus dosen yang turut mengembangkan kawasan tersebut. Prof. Dr. rer. nat. Junun Sartohadi, M.Sc. yang menjabat sebagai Guru Besar dan Ketua Program Studi S1 Ilmu Tanah UGM, Fakultas Pertanian UGM. Beliau ini juga dikenal sebagai pakar Geografi Tanah dan Geomorfologi, akademisi yang berfokus pada pengelolaan sumber daya lahan serta mitigasi bencana. Beliau menyampaikan materi tentang “Upaya Mitigasi Longsor dan Konservasi Lahan di DAS Bompon, Dusun Kalisari” dengan memberikan gambaran mengenai kondisi lahan tersebut yang rawan mengalami bencana tanah longsor, erosi, serta kekeringan akibat kondisi fisik wilayahnya. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dr. Sudaryatno, M.Si. selaku Kepala Program Magister Studi Ilmu Lingkungan UGM, Dr. Priyaji Agung Pambudi, S.Pd., M.Si. dan Dr. Emiliya Nurjani, S.Si., M.Si. selaku Dosen Program Magister Ilmu Lingkungan UGM.

(Dokumentasi Kegiatan)

Kondisi lingkungan secara global yang saat ini semakin terdampak oleh perubahan iklim menunjukkan keselarasan dengan tema kegiatan ini. Khususnya Indonesia yang terkena dampak perubahan iklim melalui meningkatnya frekuensi bencara hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan kekeringan karena adanya kerusakan lingkungan serta perubahan pola curah hujan. Kawasan DAS Bompon ini menjadi salah satu contoh kawasan yang rentan dengan morfologi berupa lereng perbukitan dengan material tanah yang mudah bergerak hingga menyebabkan berkuragnya vegetasi pohon besar dan minimnya sumber air. Melihat hal tersebut, kegiatan Hari Lingkungan 2026 yang dilaksakan di DAS Bompon ini sangat relevan dan menunjukkan aksi nyata berbasis alam (nature-based solution) dalam mengadapi perubahan iklim. Penanaman 100 bibit pohon alpukat merupakan bentuk dari upaya konservasi (productive conservation) dan mitigasi bencana sekaligus memiliki nilai ekonomi sehingga dapat menjadi insentif bagi masyarakat untuk berperan dala merawat pohon. Selain membantu mengurangi risiko longsor dan erosi, vegetasi juga berperan penting dalam menjaga siklus hidrologi, meningkatkan resapan air, serta mendukung penyerapan karbon di atmosfer.

(Dokumentasi Kegiatan)

Kegiatan ini diselenggarakan secara luring melibatkan 80 orang, yang berasal dari mahasiswa Program Magister Ilmu Lingkungan hingga Program Doktor Ilmu Lingkungan. Seluruh peserta tidak hanya melakukan kegiatan penanaman pohon, tetapi juga melakukan kegiatan penebaran 2.500 benih ikan nilem sebagai upaya menyeimbangkan ekosistem perairan dan mendukung ketahanan pangan masyarakat di tengah ancaram perubahan iklim. Tidak hanya berkaitan dengan aspek ekologi, penebaran benih ini juga berkiatan langsung dengan keberlanjutan ekonomi beserta kesejahteraan masyarakat setempat. Jenis ikan ini menujukkan bentuk pemanfaatan yang komplementer, yaitu sebagai spesies budidaya produktif dan sebagai spesies lokal yang mendukung fungsi ekosisem serta keanekaragaman genetik.

(Dokumentasi Kegiatan)

Akhir dari kegiatan ini adalah mengunjungi industri MOCAF (Modified Cassava Flour) sebagai penutup rangkaian kegiatan. Industri MOCAF ini juga merupakan hasil dari productive conservation sebagai sarana edukasi yang menunjukkan keterkaitan antara pengelolaan sumber daya lokal, inovasi pangan, dan penguatan ekonomi hijau di wilayah DAS Bompon. MOCAF sendiri meruapakan tepung singkong yang dimodifikasi melalui proses kimia ringan untuk meningkatkan kualitas fungsionalnya. Mengolah singkong menjadi produk bernilai tambah mengurangi ketergantungan pada komoditas impor yang secara sistemik menurunkan jejak karbon dari rantai pasok pangan dan sekaligus terhadap bahan pangan tertentu di tengah tantangan perubahan iklim global. Terdapat beberapa olahan makanan yang dihasilkan dari industri ini, seprti roti atau kue basah, camilan tradisional, hingga olahan mie sehat.

(Dokumentasi Kegiatan)

Melalui rangkaian kegiatan ini, peringatan Hari Lingkungan 2026 diharapkan tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran dan kepedulian bersama terhadap pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata. Upaya konservasi berbasis alam seperti penanaman pohon, pelestarian ekosistem perairan, hingga pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan menjadi langkah kecil namun penting dalam menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Semangat “Eco-Action, Climate Reaction: From Land to Water, We Act Together” diharapkan dapat terus mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Lebih lanjut, rangkaian kegiatan Hari Lingkungan 2026 ini juga menunjukkan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan penanaman pohon, konservasi lahan, serta penguatan ketahanan ekosistem mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action) melalui upaya mitigasi dan adaptasi berbasis alam terhadap dampak perubahan iklim. Penebaran benih ikan nilem dan pengelolaan ekosistem perairan turut mendukung SDG 14: Ekosistem Laut (Life Below Water) dan SDG 15: Ekosistem Daratan (Life on Land) melalui pelestarian keanekaragaman hayati serta pemulihan fungsi ekologis kawasan DAS. Selain itu, pengembangan industri MOCAF sebagai bentuk productive conservation berkontribusi terhadap SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth) serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan dan penguatan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendukung agenda pembangunan berkelanjutan secara terpadu di tingkat lokal maupun global.

Penulis: Faradella Ridha Utoro

Tags: ilmu lingkungan SDG 12 SDG 13 SDG 14 SDG 15 SDG 8 SDGs

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (+62) 858-6655-3174
Email: ilmulingkungan.pasca@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY