• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
Universitas Gadjah Mada
  • BERANDA
  • PROGRAM MAGISTER
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • PERKULIAHAN
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
  • PROGRAM DOKTOR
    • PROFIL
    • PENDAFTARAN
    • KURIKULUM
      • PERKULIAHAN
      • TUGAS AKHIR
    • AKADEMIK
      • KALENDER AKADEMIK
      • LAYANAN AKADEMIK MAHASISWA
      • AKREDITASI PRODI
    • RISET/PUBLIKASI
  • KONTAK
  • Beranda
  • Berita
  • Ekspedisi Sunda Kecil: Dinamika Tren Eco-Tourism untuk Mendukung Pariwisata Super Premium di Nusa Tenggara Timur

Ekspedisi Sunda Kecil: Dinamika Tren Eco-Tourism untuk Mendukung Pariwisata Super Premium di Nusa Tenggara Timur

  • Berita, Berita S3, Sorotan, Sorotan S3
  • 7 Juli 2025, 09.30
  • Oleh: muhammad.ulyn.n
  • 0

Nusa Tenggara Timur, Juli 2025 – Sebanyak 25 mahasiswa program doktor Universitas Gadjah Mada (UGM) dari Program Studi (Prodi) Doktor Ilmu Lingkungan, Doktor Ilmu Geografi, dan Doktor Kependudukan melaksanakan Ekspedisi Sunda Kecil pada 1–7 Juli 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran transdisipliner yang menghubungkan sains, budaya, dan kebijakan keberlanjutan. Empat lokasi strategis menjadi fokus ekspedisi, masing-masing menggambarkan kompleksitas hubungan antara manusia dan lingkungan di wilayah kepulauan timur Indonesia.

  1. Wae Rebo: Ekowisata Budaya dan Semangat Keberlanjutan [selengkapnya]

Desa Wae Rebo terletak di pegunungan Manggarai menjadi titik awal ekspedisi. Lokasi ini terkenal dengan rumah adat Mbaru Niang yang melingkari Compang (altar leluhur), desa ini menjadi contoh praktik pengelolaan pariwisata berbasis budaya dan lingkungan. Warga mengembangkan ekonomi melalui homestay, kopi lokal, dan tenun tangan, sekaligus menjaga kelestarian adat.

Ketua Prodi Doktor Ilmu Lingkungan, Prof. Eko Haryono, menyatakan:

“Pendidikan lingkungan untuk anak-anak desa menjadi kunci menjaga kesinambungan ekowisata berbasis budaya.”

Rekomendasi dari tim meliputi pelatihan digitalisasi wisata, penguatan promosi produk lokal, dan sinergi multipihak untuk pembangunan infrastruktur yang selaras dengan konservasi.

 

  1. Talkshow Interaktif: Merajut Kolaborasi Kawasan Wisata Premium Labuan Bajo [selengkapnya]

Di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo, dilaksanakan talkshow antara tim UGM, alumni Kagama Manggarai, TN Komodo, kampus lokal El Bajo, dan praktisi lingkungan. Isu utama yang muncul mencakup: ketimpangan pembangunan pusat-pinggiran, kesiapan masyarakat lokal, manajemen sampah, dan daya dukung ekologis kawasan wisata.

Osmar Shalih, mahasiswa Doktor Geografi UGM, menyampaikan:

“Daya dukung lingkungan menjadi aspek krusial dalam desain kawasan wisata berkelanjutan.”

Hasil diskusi menekankan pentingnya membangun kapasitas masyarakat, memperkuat regulasi tata ruang, dan memperluas kolaborasi akademik-praktis untuk solusi keberlanjutan jangka panjang.

 

  1. Labuan Bajo: Kekayaan Bawah Laut dan Eksplorasi Ekologi Pulau-Pulau Kecil Tropis [selengkapnya]

Tim ekspedisi mengunjungi Pulau Sebayur, Taka Makassar, Padar, Kalong, dan Kelor untuk observasi ekosistem laut dan darat tropis. Pulau Sebayur dinilai ideal sebagai baseline konservasi karena rendah intervensi manusia. Di sisi lain, Pink Beach dan Padar menunjukkan tanda-tanda tekanan wisata yang perlu dikendalikan secara ekologis.

Studi ini juga mencatat pentingnya konservasi koloni kalong (kelelawar buah) di Pulau Kalong dan dinamika vegetasi savana Pulau Kelor sebagai indikator ekologi kawasan pesisir tropis.

Hasil ekspedisi memperkuat kebutuhan pengelolaan berbasis daya dukung, edukasi wisata, dan pelibatan komunitas lokal dalam konservasi.

 

  1. Komodo: Konservasi Reptil Purba dan Tantangan Ekowisata [selengkapnya]

Pulau Komodo menjadi highlight ekspedisi, di mana tim melakukan studi perilaku dan habitat Varanus komodoensis secara langsung di lapangan. Mahasiswa berinteraksi dengan Ranger TNK dan mengamati Komodo jantan bernama Thomas saat musim kawin. Studi ini menegaskan bahwa Komodo merupakan salah satu spesies kunci kemajuan evolusi dan menjadi simbol tantangan konservasi modern yang progresif.

Fizul Surya Pribadi, kandidat doktor Ilmu Lingkungan UGM, menyatakan:

“Komodo bukan hanya warisan hayati, tapi juga penghubung pengetahuan antara masa lalu dan masa depan bumi.”

Selain risiko ekologis, tim menyoroti isu sosial seperti ketimpangan distribusi manfaat ekonomi wisata dan rendahnya keterlibatan warga lokal dalam industri wisata kapal.

Mendukung SDGs dan Riset Berbasis Data

Ekspedisi Sunda Kecil UGM mendukung secara langsung berbagai tujuan SDGs:

  • SDG 4, 8, 13, 14, 15, dan 17,
    dengan pendekatan ilmiah, partisipatif, dan berbasis komunitas.

Kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi riset lanjutan, pengembangan wilayah berkelanjutan, serta laboratorium hidup (living laboratory) untuk mengintegrasikan upaya konservasi alam, budaya, dan pembangunan yang berkeadilan di kawasan timur Indonesia.

Tags: Ekspedisi Sunda Kecil ilmu lingkungan Labuan Bajo SDG 13 SDG 15 SDG 17 SDG 4 SDG 8 SDGs Waerebo

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (+62) 858-6655-3174
Email: ilmulingkungan.pasca@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY